Sabtu, 15 Juni 2013

CARA JITU MENANGKAP SEBUAH PESAN DAN NILAI ALQURAN

Ilustrasi: Kitab Suci Al Quran
Perlu ada upaya untuk menggiatkan tadabur, seperti menggalakkan kegiatan mengaji di masjid dan mushala. 
Meski bersyarat, tadabur lebih fleksibel dari tafsir. Ribuan orang menghadiri acara tadabbur Alquran di Istiqlal. Mereka berdatangan dari sekitar Jabodetabek. Semuanya duduk ber sila mendengarkan pemahaman dan perenungan Alquran dari Ketua Lembaga Tadabur Alquran Internasional Syaikh Nasir Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (2/6).

Ribuan umat Islam memenuhi lantai dua Masjid Istiqlal, Jakarta. Mereka dengan tekun menyimak para pembicara. Sesekali teriakan takbir menggema di antara ribuan jamaah itu. 

Ketua Lembaga Tadabur Internasional Prof Naseer al-Omar mengatakan, tadabur itu berlaku general untuk semua kalangan yang paham bahasa Arab, baik pria ataupun wanita. Bahkan, non-Muslim pun dituntut untuk bertadabur. Dia mengutip surah Muhammad ayat ke-24. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?”

Tak terkecuali munafik, liberal, atau sekuler. Jadi, ujar Sekjen Persatuan Ula ma Islam itu, tadabur adalah cara untuk melihat makna dan pesan di balik sebuah ayat yang berdampak dahsyat pa da iman, moralitas, dan interaksi dengan seksama. Dengan syarat, tidak mendatangkan makna yang melenceng dari ayat. Misalnya, kisah Musa meminta pertolongan dua putri Syuaib. Sebagian orang salah memahami itu menunjukkan bolehnya percampuran lawan jenis, pada hal jika dipahami jeli justru mengisyaratkan sebaliknya.

Sayangnya, tambah dia, meski mengalami peningkatan yang cukup signifi kan, namun masih belum sepopuler gerakan belajar tajwid ataupun menghafal Alquran. “Kita ingin lebih dari sekadar hafalan,” katanya.

Menurut dia, dibandignkan dengan tafsir, tadabur lebih fleksibel. Karenanya, dia dan lembaganya menargetkan agar tadabur bisa dikonsumsi banyak kalangan. Dari berbagai usia, tak terkecuali anak kecil. Begitu pula orang umum bisa menangkap pesan dan nilai Alquran, tanpa harus masuk ranah tafsir. Ini karena jika dalam konteks pribadi, tadabur lebih fleksibel. Berbeda bila untuk konsumsi publik, seperti ceramah ataupun media. “Maka, rujuklah kembali ke pendapat ulama,” katanya.

Membaca, mengamati, meneliti maknamakna yang terkandung di dalam Alquran dari awal hingga akhir adalah upaya yang disebut dengan tadabur Alquran, jelas Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, Prof Rosihon Anwar, kepada Republilka, Selasa (4/6). “Aktivitas tadabur Alquran bisa dilakukan oleh siapa pun asalkan dia bisa membaca Alquran. Ini yang paling dasar,” katanya.

Syarat untuk bisa menadaburi Alquran adalah bisa membacanya. Maka, mengulang-ulang membaca Alquran adalah salah satu cara untuk bertadabur. Yang paling utama adalah memahami makna setiap kata Alquran. “Jika kita membaca Alquran lalu gemetarlah hati kita dan bertambah iman kita, maka itu adalah tadabur Alquran,” katanya.

Tadabur Alquran akan lebih sempurna bila yang melakukannya memahami ilmu Alquran. Ilmu-ilmu Alquran penting untuk memahami ayat-ayat hukum dan mutsayabih. Nantinya juga akan dibarengi dengan pemahaman sebabsebab diturunkannya ayat tersebut.

Ia menyebutkan tadabur Alquran merupakan bagian dari memahami Kitab Suci tersebut. Jadi, nantinya adalah mencari kebenaran dari Alquran, bukan untuk menjustifi kasi kepentingan pribadi. Tadabur juga harus dilakukan dengan pemahaman bahasa Arab yang baik. Bagaimana bisa seseorang menghayati dan merenungkan Alquran jika tidak mampu memahami bahasanya.

Penjelasan serupa disampaikan oleh Manajer Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta Dr Mukhlis M Hanafi . Penyabet gelar doktor di Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, itu menyatakan tadabur Alquran bisa dimaksud memahami dan meresapi maknanya. Hal ini kerap terjadi ketika seseorang menghafal dan membaca Alquran.

Dia menyatakan perlu ada upaya untuk menggiatkan tadabur, seperti menggalakkan kegiatan mengaji di masjid dan mushala. Upaya lainnya menggalakkan tadabur Alquran adalah dengan memperlakukan Kalam Allah SWT itu seperti halnya saha bat memperlakukan Alquran. “Para sahabat membaca Alquran seperti membaca surat cinta. Dipahami betul kata-katanya. Kemudian, diresapi dan dihayati,” jelasnya.

Oleh Erdy Nasrul
Republika.co.id, Redaktur : Heri Ruslan, Repost by Bio